Monday, July 27, 2009

Takut Bahaya Plastik? Inilah Solusinya!

Fakta-fakta menyebutkan, untuk kondisi tertentu plastik tidak aman digunakan. Tapi tetap ada cara untuk menyiasatinya.

Banyak alasan mengapa saat ini kita mesti mempertimbangkan untuk membawa bekal makanan dari rumah ketimbang membelinya di jalanan. Selain memang lebih ekonomis, yang tidak kalah penting juga adalah terjaminnya kesehatan dan kebersihan makanan yang kita makan sehari-hari. Masalahnya tinggal bagaimana kita mengemas makanan tersebut.











Memang, cara yang paling praktis untuk membawa makanan dari rumah adalah dengan menggunakan wadah plastik. Selain itu, langkah ini sangat ramah lingkungan karena mengurangi penciptaan sampah plastik yang sangat berbahaya bagi masa depan bumi kita. Hanya saja, cara ini tidak selamanya bisa dibilang aman mengingat sifat plastik yang tidak tahan panas. Sebab, panas yang memapari plastik memicu migrasi komponen monomer sehingga mencemari makanan atau minuman dan akan berakibat buruk terhadap kesehatan penggunanya. "Apalagi jika makanan yang dimasukkan ke plastik dalam keadaan panas, berminyak atau bersifat asam, peningkatan migrasinya bisa lima kali lebih tinggi," ungkap DR. Yadi Haryadi, ahli pangan dari Institut Pertanian bogor (IPB) dalam acara talkshow "Plastik sebagai Wadah yang Ramah bagi Kesehatan dan Lingkungan"; di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Jadi, walaupun Anda sudah memastikan bahwa makanan tersebut bergizi, bersih dan sehat, jika wadah yang digunakan tidak tepat atau kualitasnya buruk, hal itu justru dapat memicu datangnya penyakit. Hal ini mengingat monomer yang reaktif tersebut sebagian ada yang bersifat karsinogenik. Demikian juga dengan zat aditif lainnya. Semua kandungan kimia ini akan terakumulasi di dalam tubuh seiring dengan waktu, pada akhirnya bisa menimbulkan berbagai penyakit berbahaya, seperti kanker.












Tidak sempurna

Dalam kesempatan terpisah, DR. Eng. Agus Haryono, peneliti bidang teknologi proses dan katalisis Puslit Kimia LIPI, menjelaskan, di dalam plastik terkandung lebih dari 10 ribu molekul. Dalam pembuatannya, terjadi proses polimerisasi (molekul-molekul disambung-sambung sehingga terbentuk polimer atau molekul yang lebih besar).

"Di dalam campuran tersebut ada sebagian molekul yang tidak tercampur secara sempurna atau berdiri sendiri. Ketika plastik dipanaskan, molekul yang bebas itu akan mudah terlepas. Jika plastik itu digunakan sebagai wadah makanan, terlebih makanan yang panas dan berminyak, molekul-molekul itu bisa bermigrasi ke dalam makanan yang pada akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia yang mengonsumsi makanan tersebut," terang Agus.

Sesungguhnya, proses pembuatan plastik sebagai kemasan makanan harus memenuhi standarisasi (di Indonesia, pedomannya adalah Standar Nasional Indonesia-SNI) yang sangat perlu untuk diikuti setiap produsen. Sehingga, sangat kecil kemungkinan polimer dapat bermigrasi karena molekulnya yang tergolong besar. Justru yang harus diwaspadai adalah bahan aditifnya.

Kebanyakan plastik seperti PVC (poly vinyl chloride), agar tidak bersifat kaku dan rapuh ditambahkan dengan suatu bahan pelembut (plasticizers) yang diambil dari kumpulan ftalat. Belakangan diketahui bahwa penggunaan bahan pelembut ini justru dapat menimbulkan masalah kesehatan. Sebagai contoh, penggunaan bahan pelembut seperti bifenil poliklorin (PCB) sekarang sudah dilarang pemakaiannya karena dapat menimbulkan kematian jaringan dan kanker pada manusia (karsinogenik).

Sedangkan plastik PVC yang menggunakan pelembut jenis di(2-ethylhexyl) adipate (DEHA), berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, dapat mengontaminasi makanan dengan mengeluarkan bahan pelembut ini ke dalam makanan. Berdasarkan data kajian yang dijalankan terhadap hewan percobaan, DEHA dapat mengganggu sistem reproduksi dan menghasilkan janin yang cacat, selain mengakibatkan kanker. DEHA diduga mempunyai karakter yang sama dengan hormon yang membawa sifat-sifat khas wanita, yaitu estrogen.

Hingga kini para peneliti terus berupaya membuat alternatif lain agar plastik ini dapat dibuat dengan kandungan bahan aditif yang relatif lebih aman. Agus, misalnya, mencoba mengganti pelembut dengan minyak nabati dari kelapa sawit untuk menggantikan ftalat. Di Amerika, bahan kimia tersebut diganti dengan minyak kedelai. Tidak hanya itu, para peneliti juga sedang berusaha membuat plastik yang tidak mudah termigrasi molekulnya.

Jangan salah menggunakan

Terdapat 3 jenis plastik yang masih diragukan keamanannya karena diduga mengandung unsur yang bersifat karsinogenik serta mengandung dioksin yang berbahaya bagi kesehatan tubuh dan lingkungan hidup. Ketiga jenis itu adalah poli stiren, PVC, dan vinylidence chloride resin (VCR). Ketiga jenis plastik ini misalnya plastik lemas atau bening dan stirofom (misalnya kemasan mi instan gelas).

Bagaimanapun, meski pihak produsen sudah mengupayakan agar produk yang dibuatnya seaman mungkin, bukan tak mungkin pencemaran terhadap makanan terjadi justru akibat ulah konsumennya sendiri yang salah ketika menggunakannya. Misalnya, membiarkan plastik terkena suhu yang sangat panas. Karena, semakin tinggi suhu semakin besar pula kecepatan perpindahan komponen plastik ke dalam makanan atau minuman.

Jenis makanan tertentu juga dapat memicu larutnya plastik ke dalam makanan, seperti makanan berminyak, mengandung lemak, dan bersifat asam. Buah yang dibungkus plastik PVC juga mengandung risiko bahaya. Sebab, buah-buahan memiliki asam organik yang diduga dapat memicu pindahnya monomer plastik ke dalam makanan.

Stirofom (plastik berwarna putih susu) juga tidak cocok sebagai wadah susu atau yogurt. Sebab, stirofom terbuat dari stiren yang bersifat larut oleh lemak, sementara susu dan yogurt mengandung lemak yang relatif tinggi. Juga, minuman kopi dengan campuran krim tak dianjurkan diwadahi stirofom. Makanan yang mengandung vitamin A tinggi sebaiknya juga tidak dipanaskan di dalam wadah stirofom, karena stiren yang ada di dalamnya dapat larut ke dalam
makanan. Pemanasan akan memecahkan vitamin A menjadi toluene. Toluene ini pada akhirnya dapat melarutkan stiren.

Selain itu, semakin lama makanan dikemas dalam plastik, maka semakin banyak pula komponen plastik yang akan pindah ke dalam makanan.









Menarik saja tak cukup

Berbagai fakta di atas bukan dimaksudkan untuk membuat Anda takut dan menghindari plastik, melainkan sebaliknya, yaitu agar Anda bisa lebih bijak dalam penggunaannya. "Anda harus memilih jenis plastik yang aman dan berkualitas, ini yang terpenting. Kemudian, baru memikirkan cara menggunakan secara tepat," tegas Ir. Wawas Swathatafrijiah, Kepala Balai Sentra Teknologi Polimer dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Memilih wadah plastik untuk makanan tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan bentuknya yang bagus atau warnanya yang menarik. Karena yang paling utama adalah memperhatikan ciri-cirinya. Misalnya, menurut Wawas, tidak sedikit orang yang masih salah dalam mengartikan angka yang terdapat di tengah-tengah simbol segitiga pada kemasan plastik. "Urutan angka 1-7 bukanlah menandakan tingkat keamanan kemasan tersebut (misalnya 1 paling aman, 7 sebaliknya), melainkan penanda plastik yang bisa didaur ulang dan golongannya. Nomor 1 (Polyethylene terephthalate), 2 (High-density polyethylene), 4 (Low density polyethylene), dan 5 (Polypropylene), lanjut Wawas, merupakan plastik yang relatif aman karena bahan polimernya dianggap tidak membahayakan. Namun begitu, ini masih tidak menjamin kalau bahan ini berkualitas terbaik dengan angka migrasi kecil. Karena masih tergantung dengan zat aditifnya," jelas Wawas.

Pedoman yang lebih baik dalam memilih kemasan makanan, menurut Wawas adalah logo gelas dan garpu yang melambangkan food save atau food grade, atau tulisan Approved by FDA. "Perhatikan juga kredibilitas produsen atau merek dagang yang dipatenkannya. Barang asli dari produsen terbaik, walau memiliki harga yang sedikit lebih mahal, jauh lebih baik karena dipastikan sudah memenuhi standar produksi tertentu. Selain itu, bahan sisa dari plastik berkualitas baik juga lebih ramah lingkungan karena sangat memungkinkan untuk didaurulang," terangnya.

Begitu Anda telah memiliki wadah plastik yang berkualitas dan aman, tahapan selanjutnya adalah menggunakannya sesuai aturan. Misalnya ada kemasan yang hanya diperuntukkan bagi makanan sekali pakai, jangan coba menggunakannya lagi kecuali untuk selain makanan. Contoh lain, jika khusus kulkas, pakailah hanya untuk di dalam kulkas. Jangan dipanaskan apalagi menggunakan microwave, kecuali jika memang terdapat tulisan microwave save.

Mari 'Amankan' Plastik!

Ketika membeli makanan ber-kemasan plastik, Anda jelas tidak mungkin menanyakan kandungan plastik tersebut ke penjual makanan. Untuk itu, berikut beberapa tip agar terhindar dari dampak buruk plastik:

●►

Sebenarnya plastik itu tidak berbau dan berwarna. Jadi, hindari penggunaan plastik yang berbau dan berwarna gelap untuk membungkus makanan secara

langsung.

●►

Plastik kresek hitam yang sering digunakan sebagai pembungkus gorengan, gelas plastik yang dipakai untuk air mendidih, botol kemasan air mineral yang diterpa

sinar matahari setiap hari, serta penggunaan plastik kiloan untuk membuat ketupat, adalah contoh-contoh penggunaan kemasan plastik yang salah dan

sangat berbahaya.

●►

Ketika memilih makanan berkemasan plastik wrapping, perhatikan tanggal kadaluarsa.

●►

Cuci dan sterilkan botol plastik wadah susu, air kemasan, atau minuman ringan, jika ingin dipakai lagi untuk wadah minuman lain.

●►

Hindari memasukkan makanan yang masih panas ke dalam plastik. Sebaiknya, tunggu beberapa saat hingga dingin.

●►

Hindari pula membungkus makanan panas berminyak seperti bakso dan gorengan atau makanan cair yang bersifat asam dengan plastik.

●►

Terapkan prinsip3Rdalam kebiasaan hidup sehari-hari, yaitu Recycle (menggunakan hanya plastik yang bisa didaur ulang), Reduce (menggunakan kemasan atau wadah

yang bukan sekali pakai), serta Reuse (menggunakan wadah untuk fungsi yang berbeda, seperti kaleng makanan sebagai wadah pensil.


Healtylife
Edisi 07/VIII - Juli 2009

No comments:

Post a Comment